Puisi Tentang Kau Ibu

Riwayat Hidup Ibu yang Bisa Kutuliskan Selepas Kepergianmu, Ayah!

1/
Di malam pertama kau tak lagi memanggil nama Ibu
Beribu kata-kata terperangkap di kebekuan bibirnya
Lalu deretan tanyaku tentang pilukah ia
Menemu jawab lewat setetes air mata yang jatuh
Yang seketika menjelma kerinduan tak usai
Dan esok adalah kesepian yang rapih
Membalut detik ke menit
Menit ke jam hingga ke batas hari
Dengan warna kelabu tak pudar
Pendarnya serupa kabut malam
Suram dan hilangkan bayang


2/
Malam ketiga dan doa-doa masih singgah di awan- awan
Tuk bermukim bersama uapan air laut
Menjelma bebulir hujan yang jatuh meruah
Membasahi kembali tanah merahmu
Melembabkan dekapan Ibu pada bingkai foto tuamu
Ibu mencipta samudra tanpa riak gelombang
Sesengukkannya merampas kesempatan rembulan
Hadir mengucap salam damai dari langit malam
Jika tengadah wajah dan tangan masih kau lihat
Sesungguhnya itu adalah wujud nelangsa
Yang oleh malam dibiaskan sebagai hal biasa
Tak seperti wajah ibu yang terus pias oleh
Kehilangan tanpa sekata dua kata perpisahan

3/
Sepekan hadir dan cahaya kehidupan masih dimonopoli malam
Kelam sungguh tak punya malu, tak mau beranjak
Bahkan oleh daftar panjang doa-doa
Sekiranya harapan terus disepoikan angin
Ibu tak lantas bergeming
Hening adalah kawan sejatinya
Dia punya bahasa baru
Yang membahana di antara sulur-sulur janji hati
Tiada tersakiti namun terlewati jalan derita
Lara masa akan memelihara jiwanya
Tanpa limit yang bisa ditandai
Bahkan oleh tinta ingatan paling murni

4/
Empat puluh hari tiba dan kesantunan cahaya merapat
Begitu dekat di guratan paras Ibu
Semacam suratan nasib baru kubaca
Ibu memuncaki letih laranya
Ibu luruhkan galau dan gamang
Melepasnya jauh, di sela- sela arah yang asing
Lalu rentangan tangannya begitu lebar
Dia siap menampung hamburan tubuhku
Dia kokoh menopang gigil pedihku
Yang menyusul tak tertahankan
Usai kulihat sebenar- benarnya ada
Mentari bermukim di kedalaman mata Ibu
Aku merindu dekapan hangat Ibu
Sungguh merindu

5/
Setahun berlalu dan musim- musim masih tak berubah nama
Andai harus bersua basah dan lembab yang tebal
Sungguh Ibu telah kebal
Kesibukannya berkabar pada langit tentang rumah cahaya
Menjadikannya lupa bahwa di silam yang belum jauh
Dia pernah melaknat sebuah kepergian
Yang meninggalkan rentetan kalimat penyesalan
Menjadi puisi melankolia menghanyutkan
Ibu memang pernah larut dalam lara
Tapi bening hatinya menautkan kembali mozaik ingatan
Akan takdir kehidupan yang tak boleh putus
Hanya karena sebuah kematian datang melawat

6/
Lantas setelah sembilan tahun kepergianmu, Ayah!
Ibu telah mampu menemukan nama barunya
Tertulis dengan huruf-huruf kasih
Berbalut sayang yang fasih dilantunkan oleh cerah wajahnya
Yang bersih dieja oleh ranum bibirnya
Sesungguhnya Ayah, bingkai fotomu telah menjadi rumah
Rumah kenangan abadi tak terganti
Bagi setiap tatap mata Ibu yang berlabuh
Di dinding kamarnya yang mungil
Kau, selama sembilan tahun yang sunyi
Menatapnya dengan cinta yang wangi
Sewangi melati dari tubuh Ibu
Yang kuhirup setiap diberinya aku
Dekapan hangat di pagi hari

Oleh Arther Panther Olii.

Top Blogs

2 komentar:

  1. puisinya bagus-bagus, terutama puisi tentang ibu nya, sangat inspiratif sekali. salam kenal ya

    BalasHapus
  2. salam kenal juga dan thanks dah mau berbagi komentar.

    BalasHapus

Inpirasikan komentar anda dan berbagilah jika anda menyukai.

Search

Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal

Mulailah Bisnis Anda Sekarang

web4invest murah berkah bisnis

  © Wong Ra Ngerti Copyright 2011 by Segoro Ombo Blogspot